Laman

Selasa, 03 Januari 2012

Lomba Penulisan PUISI

LOMBA PENULISAN PUISI JOGJA 2012

TEMA: Nilai-Nilai Budaya Jogja dalam Kehidupan Berbangsa

HADIAH TOTAL 10 JUTA

untuk 5 pemenang

SYARAT UMUM

  • Peserta adalah Warga Negara Indonesia yang bertinggal di wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
  • Peserta berusia minimal 18 tahun pada Desember 2011, atau batas maksimal kelahiran pada Desember 1993.
  • Naskah puisi ditulis dalam Bahasa Indonesia, harus karya asli dan bukan hasil terjemahan, atau adaptasi dari karya orang lain.
  • Naskah puisi belum pernah dipublikasikan di media cetak (koran, majalah, jurnal, buletin dll), atau media elektronik (berbagai situs di internet), dan tidak sedang diikutsertakan dalam sayembara lain.
  • Naskah puisi tidak mengandung SARA dan pornografi.
  • Lomba dimulai sejak 10 Desember 2011 – 10 Februari 2012.
  • Batas akhir penerimaan puisi melalui surat didasarkan pada Cap Pos Pengiriman tanggal 10 Februari 2012.
  • Naskah puisi dikirim melalui pos / diantar langsung ke alamat :

PANITA LOMBA PENULISAN PUISI JOGJA 2012

Bagian Pelayanan Umum Taman Budaya Yogyakarta

Jln. Sri Wedani N0. 1 Yogyakarta

SYARAT-SYARAT KHUSUS

  • Peserta boleh mengirimkan naskah maksimal 3 judul puisi yang ditulis pada tahun 2011-2012.
  • Mencantumkan Bulan dan Tahun penciptaan pada baris akhir setiap judul puisi
  • Panjang puisi minimal 30 baris, maksimal 60 baris (tidak termasuk jarak antar bait, judul, dan tahun penciptaan)
  • Isi Puisi mengandung makna yang menyaran pada tema lomba
  • Diketik dengan komputer program MS Word, jenis huruf Time New Roman ukuran 12 point.
  • Diprint di atas kertas A4 (kwarto 80 gram), spasi 1.5 lines, margin kiri 4 cm, margin kanan, atas, dan bawah 3 cm, dan diberi nomor halaman.
  • Naskah puisi dikirim dalam 3 bendel (rangkap 3) tanpa mencantumkan nama penulis.
  • Naskah puisi dimasukkan ke dalam amplop tertutup, dengan melampirkan bendel tersendiri yang berisi:

1). Fotocopy KTP/SIM/Pasport/Kartu Pelajar/Kartu Mahasiswa/ atau Surat Keterangan Penduduk Sementara dari Pemerintah Desa tempat bertinggal.

2). Biodata singkat (maksimal 15 baris), disertai alamat lengkap, email dan nomor HP/telephon, serta mencantumkan 3 (tiga) judul puisi yang diikutkan dalam lomba.

PEMENANG LOMBA AKAN DIUMUMKAN DALAM ACARA PENYERAHAN HADIAH PADA TGL 28 FEBRUARI 2012 JAM 19.30 DI SOCITET TAMAN BUDAYA YOGYAKARTA

HADIAH PEMENANG:

PEMENANG I : Rp 3.000.000,-

PEMENANG II : Rp 2.500.000,-

PEMENANG III : Rp 2.000.000,-

PEMENANG IV : Rp 1.500.000,-

PEMENANG V : Rp 1.000.000,-

SELAMAT BERKARYA!



Minggu, 20 Februari 2011

“Timbul” tak akan Tenggelam

Kali ini wisagenit sedikit diam saat mendengar kabar bahwa Timbul, salah satu personel Srimulat pergi, wafat. Diam-diam wisagenit menangis dalam batin. Namun hari-harinya tetap genit dan ndagel, itupun ia pelajari dari ‘kelakuan’ Timbul yang sering sedikit genit dalam aksi-aksi panggungnya. Tentu, kita masih ingat bagaimana ia berlagak di panggung. Tangannya bersidekap, bergoyang-goyang tubuhnya dan senyum melebar dari bibirnya. Cengengesan dan genit sekali. Namun tampak begitu alami sehingga mau tak mau kita dibikin terpingkal-pingkal.

Dan hari ini, Timbul pergi. Tentu meninggalkan sedih bagi keluarga dan karibnya. Namun tentu juga semakin menegaskan betapa dia meninggalkan pada kita sebuah adegan-adegan yang alami, yang jujur. Menegaskan betapa kita banyak berhutang akan dagelannya. Dan tentu kita masih bisa tersenyum kala melihat dia berbaring diam meninggalkan riuh rendah hidup ini.

Timbul tak akan tenggelam. Ia terus muncul di benak kita, dengan usianya yang senja masih terus memberikan humor-humornya pada kita. Masih terus menghibur kita yang berlarat dengan kesedihan. Dan itulah mungkin hebatnya sang komedian, mampu memberi perhentian sejenak bagi kesedihan keseharian kita. mereka, para komedian adalah ”editor” kehidupan yang cerdas, begitu kata Umar Kayam. Dan tentu, Timbul termasuk barisan itu.

Lalu hari itu, wisagenit diam seharian di kamar. Dan seakan ikut merasuk dalam Nyepi umat Hindu. Jasad Timbul padam, ucapnya. Wisagenit diam seribu bahasa di kamar. Ia matikan lampu kamar. Duduklah ia, melantunkan lagu jalan sunyi Emha, rengeng-rengeng.

Akhirnya, segalanya menuju pada muasal. Dengan merangkak, berlari atau mau-tak mau harus diseret. Akhirnya, Timbul pergi meninggalkan kita yang sedang menyaksikan adegan dagelan yang artifisial, norak di jalan-jalan, di lapangan-lapangan besar. Sebuah parade dagelan yang wagu, garing kata anak-anak muda. Dan tentu Timbul tak akan tenggelam dengan itu semua. Selamat jalan pak Timbul, kami masih menyimpan aksi-aksimu itu.

Wisagenit bangun tergeragap. Welha, kenapa kok tiba-tiba aku sok-sokan berkata-kata gini. Welha. Wis, wis..

Yk, 27 maret 2008

Rabu, 19 Januari 2011

Leo Messi

Si Kecil yang terus berlari

: catatan kecil untuk si Leo

Bukan sekedar kemenangan, pun kalungan gelar yang glamour, tapi kaki-kaki yang terus berlari dan berlari membawa senyum, menari di sehampar padang hijau. Dan si kecil itu tak pernah berhenti ternsenyum, berlari dan berlari mengukuhkan keindahan keberanian tanpa henti. Ia pun selalu menjelma si kecil yang lepas akan sekitar, berlari, jatuh, lari lagi, dijatuhkan dan bangkit kembali. Senyumnya terkulum pada langit saat keindahan lahir di hijau lapang, saat sorai bergemuruh mengerubutnya. Ia selalu memandang langit, mengantar syukur tak berpenghabisan.

Ya, Messi, si kecil yang penuh muslihat kanak-kanak, bukan tipu daya orang-rang dewasa yang sangat kentara kebodohannya. Leo Messi, yang selalu bergairah dengan bola, yang berlari memberi ruang, menggoda pemain belakang, bikin gemas para pelatih, juga cemas si penjaga mistar. Ia memang anak kecil, yang membuat semuanya jadi lupa akan hutang juga dusta dimana-mana. Si kecil yang wajahnya ranum oleh senyum, yang kaki-kakinya menggambar aneka warna di kanvas lapangan bola. Dan tentu, setiap orang akan selalu jatuh cinta pada permainannya, pada kaki-kakinya yang penuh gairah.

Pun, aku di sini, di tanah hijau permata dunia namun muram oleh laku penghuninya. Tanah titipan yang permai yang dipermak habis-habisan untuk sebuah nama, sebuah label yang kini jadi berhala: demokrasi. Ya, di sini, disela-sela berjejal berita yang menjengahkan dan konyol, aku mengintipmu yang berlari dengan kemurnian gairah bermain. Di sini, ketika yang ketulusan tinggal menjadi dongeng yang kadaluwarasa, ketika manusia justru takut untuk menjadi manusia, malah nekad ingin menjadi malaikat, aku ingin membuang itu semua lewatmu yang terus berlari. Hem, betapa Tuhan tak henti menyajikan berlapis-lapis nikmat ‘hanya’ lewat sehampar lapangan yang tak selebar masjid ibukota, pun gereja yang ada di kotaku.

Aku hanya melihatmu dari kejauhan Leo, dari negeri yang konon kabarnya berlimpah dengan sampah, sumpah dan juga para bedebah. Yang kabarnya penjara seperti pasar yang harganya bisa ditawar. Negeri yang molek Leo, yang setiap orang boleh menjamah atau kalau mereka tidak menoleh, maka kami sendiri yang akan menyodorkan diri untuk dijamah bahkan diperkosa. negeri yang kini meributkan aturan-aturan, pasal-pasal juga siasat-siasat buatan.

Memang, aku memandangmu dari kejauhan, tapi bukankah dalam hukum cinta, jauh dekat tak ada, ruang waktu luruh? Aku hanya merasakan betapa cinta membuatmu seperti anak kecil yang terus berlari, berlari dan tersenyum, sebab, semua sudah luruh dalam naungan gairah yang murni, yang utuh. Leo, dari sini aku melihatmu dan merengkuh gairah kaki-kakimu.

Selamat Leo, si kecil Messi

Yk, jan 2011

Selasa, 10 Februari 2009

hidup adalah membayar hutang

apa saja. pada kuntum-kuntum bunga yang lekas layu, atau pada buah-buah yang mudah kingsut. pada kata-kata yang saban keluar bagai angin, juga pada mata yang luput menangkap keringat yang jatuh di jalanan.

hidup adalah membayar hutang, apa saja.
pada yang tak henti memberi.

Minggu, 28 Desember 2008

kepada kekasihku

Taman itu bernama bening matamu. lembut alismu adalah
pelangi yang lupa tenggelam. lihatlah, aku selalu ingin memandangmu
merengkuhmu. bukan apa-apa, di sana selalu kulihat bocah-bocah
berlari bernyanyi. dan kupu-kupu asyik menghisapi bunga-bunga sedang
capung tak henti menggoda bocah-bocah.

kekasih, taman itu bernama bening matamu

Kamis, 20 November 2008

cinta adalah kembara

seperti yang ibu katakan, musim hanya satu, tak ada lain. juga cinta,
ia pun satu. aku mengembara bukan sebab apa, aku meludahi
wajahku sendiri, pun bukan karena apa-apa. sebab aku mencintai satu,
dan cinta menghendaki yang satu.

lalu apalagi yang menjadikan kita sering mendua, melupakan satu.

Minggu, 09 November 2008

setiap pagi, sebuah cinta

kita hirup sedalam-dalamnya karunia udara pagi. dan kukuh kaki kita pandang jagad matahari. setiap pagi adalah nyala matahari. memandang jagad pagi, gembira menangkup setiap cinta yang jatuh bagai daun yang tutup usia. dan setiap pagi adalah sebuah cinta.