Selasa, 10 Februari 2009

hidup adalah membayar hutang

apa saja. pada kuntum-kuntum bunga yang lekas layu, atau pada buah-buah yang mudah kingsut. pada kata-kata yang saban keluar bagai angin, juga pada mata yang luput menangkap keringat yang jatuh di jalanan.

hidup adalah membayar hutang, apa saja.
pada yang tak henti memberi.

Minggu, 28 Desember 2008

kepada kekasihku

Taman itu bernama bening matamu. lembut alismu adalah
pelangi yang lupa tenggelam. lihatlah, aku selalu ingin memandangmu
merengkuhmu. bukan apa-apa, di sana selalu kulihat bocah-bocah
berlari bernyanyi. dan kupu-kupu asyik menghisapi bunga-bunga sedang
capung tak henti menggoda bocah-bocah.

kekasih, taman itu bernama bening matamu

Kamis, 20 November 2008

cinta adalah kembara

seperti yang ibu katakan, musim hanya satu, tak ada lain. juga cinta,
ia pun satu. aku mengembara bukan sebab apa, aku meludahi
wajahku sendiri, pun bukan karena apa-apa. sebab aku mencintai satu,
dan cinta menghendaki yang satu.

lalu apalagi yang menjadikan kita sering mendua, melupakan satu.

Minggu, 09 November 2008

setiap pagi, sebuah cinta

kita hirup sedalam-dalamnya karunia udara pagi. dan kukuh kaki kita pandang jagad matahari. setiap pagi adalah nyala matahari. memandang jagad pagi, gembira menangkup setiap cinta yang jatuh bagai daun yang tutup usia. dan setiap pagi adalah sebuah cinta.

Kamis, 16 Oktober 2008

salam cinta

begitulah aku musti memulainya. tak ada lagi yang bisa diberikan kini selain cinta, tentu dengan segala bentuknya.

hari-hari kini yang begitu riuh dengan suara, porak-poranda alam flora fauna dan segala yang begitu menjadikan kita tak bisa lagi mengucap. Ah, sudahlah, malam memang musti dilalui dengan segenap laku, dengan selaga resikonya. Dan sekarang, obor itu ada dalam diri, dalam kemurnian laku dan resik dari segala melik.

sebab cinta tak pernah melukai, ia senantiasa mengajari..

salam kuliCinta

Selasa, 16 September 2008

malam-malam badranaya

dulu aku mengenangnya sebagai rumah tinggal para dewa. di sana sempat kuberikan salam pada para kekasih yang telah berjalan duluan.
aku masih mengenangnya kini, namun bukan sebagai rumah para dewa. ia seperti rumahku sendiri yang belum selesai kujelajahi

Minggu, 07 September 2008

Surat Cinta buat Indonesia

Musim bunga kemboja, kibar bendera putih dan lambaian panji warna warni. Hutan yang diam, sungai yang retak dan ngarai yang berai. Hujan yang dihujat tak menepati janji, juga ruh-ruh yang dijagal di dusun-dusun.

Aku memandangmu dari jendela yang ditatah dari jati kuburan desa yang musti ditebang dirembang petang. Dan aku memandangmu, lewat isyarat petang yang menggenang di atas rimbun hutan pinggiran desa. Tersusun rapi map warna-warni, kilat kelebat kilau perhiasan, juga gelas-gelas retak dengan bening air. Aku memandangmu, sambil mengusap keningku yang mulai berkeringat. Aku ingat hujan, air yang dikalengkan, kota dan desa yang tergenang juga jembatan yang tak selesai-selesai ditegakkan.

Aku memandangmu, melewati sekian kelokan dengan kaki yang masih sering kram. Kudapatkan ribuan isyarat, tentang cinta yang dibuat-buat, dusta yang apa adanya juga bandang suara para demonstran. Aku masih memandangmu di bawah kelabu langitmu. Aku melewati ribuan papan iklan, juga wajah-wajah penjaja angka-angka.

Hutan yang tenggelam, sungai yang menggeliat, batu-batu yang berebut riuh, angin yang malas turun ke lembah. Air yang tergesa menyusuri ngarai. Suara-suara yang mengejar burung-burung migran. Aku mencium aroma luka yang lama terbuka.

Musim bunga kemboja, burung-burung gagak yang tak henti berkepak. Kunang-kunang yang hilang selepas hujan malam-malam.

Aku ingat surat-surat kartini, lalu perempuan-perempuan berbaju warna-warni yang hilir mudik di televisi. Membayang, Ibu Fatwamati sedang menjahit bendera dengan mesin jahit tua. Lalu terantuk aku pada mesin-mesin jahit yang kosong di pabrik-pabrik garmen. Bungkus-bungkus plastik yang berceceran di halaman gedung dewan, perempuan penjual jajanan yang ngelesot di sisi jalan saat pesta dan karnval dimulai. Aku rengkuh semua, mencintainya.

Musim bunga kemboja, kelebat bendera hitam, lagu-lagu anak jalanan. Hutan yang terbakar, angin yang kembali sungsang dan hujan yang masih mendapat sekian umpatan.

Aku memandangmu, mencintaimu.

Yk, mei 2008